Rabu, 28 November 2007

Fwd: [Republika Online] Menginternalisasikan Basmalah



15 Juni 2007
Menginternalisasikan Basmalah

Setiap amal yang dilandasi basmalah, insya Allah akan baik, indah dan sempurna. Sebab kita meniatkan dan mempersembahkannya untuk Allah. Pantaskah kita memberikan sesuatu yang buruk kepada Allah?

Dari seratus empat belas surat dalam Alquran hanya satu surat yang tidak diawali basmalah, yaitu QS At Taubah <9>. Apa artinya? Basmalah menduduki posisi sangat penting dalam Islam. Ia akan menentukan nilai sebuah amal, apakah bernilai ibadah atau tidak. Sehingga, semua yang kita lakukan harus berlandaskan basmalah. Kita dituntut untuk menggantungkan semua amal perbuatan kepada Allah, serta menghiasi amal-amal tersebut dengan kasih sayang.

Secara syar'i, membaca basmalah hukumnya bisa wajib dan juga bisa sunat. Saat menyembelih hewan misalnya, membaca basmalah hukumnya wajib. Jika tidak diucapkan maka daging hewan sembelihan menjadi tidak halal. Dalam situasi khusus, misalnya saat suami dan istri hendak beribadah, maka basmalah harus diucapkan. Basmalah pun hukumnya bisa sunat, misalnya saat kita makan dan minum. Ketika kita tidak mengucapkannya, makanan dan minuman yang kita konsumsi statusnya tetap halal.

Makna basmalah
Dilihat dari susunan katanya, basmalah berisi kata bi yang artinya dengan, dan kata ismillah yang artinya menyebut nama Allah. Dalam kaidah lughah, kata bi itu harus ada muta'alif-nya, seperti misalnya dengan pulpen. Apa yang dengan pulpen? Artinya menulis dengan pulpen. Contoh lain dengan sendok. Apa yang dengan sendok? Makan misalnya, berarti memakan dengan menggunakan sendok.

Nah, dalam kalimat basmalah, Dengan menyebut nama Allah, di mana letak muta'alif-nya atau sebelumnya? Para ulama mengondisikan muta'alif itu sesuai dengan situasi tertentu. Misalnya saat makan kita mengucapkan basmalah, maka artinya kita sedang makan dengan menyebut nama Allah. Muta'alif itu sendiri berati amal yang mengiringi kata dengan atau bi.

Allah adalah lafdu jalallah; artinya Allah adalah lafadz yang sangat agung. Dalam bahasa Arab, lafadz Allah tidak memiliki asal kata. Kita tahu unsur kata Allah bukan dari buatan manusia namun langsung dari Allah sendiri. Karena itu, kata Allah inilah yang disebut sebagai lafadz yang sangat agung. Bahwa Allah memiliki nama dan sifat yang sangat agung, maka kita paham bahwa setiap kali mengucapkan basmalah, maka kita memulai ucapan dengan nama yang teramat agung yaitu Allah.

Dalam basmalah termaktub dua asma' Allah teragung, yaitu Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim. Walau ada sembilan puluh sembilan nama Allah, namun hanya Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim atau Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang yang disebutkan. Mengapa? Sebab dua sifat ini yang mendominasi dan paling umum. Dilihat secara bahasa untuk setiap kata-katanya, Bismillah, lalu Ar-Rahmaan, kemudian Ar-Rahiim. Arti dari kalimat pertama adalah Dengan menyebut nama Allah. Kalimat berikutnya, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hal ini membuktikan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang terhadap semua makhluk ciptaan-Nya.

Penyebutan Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim ini mengandung dua konsekuensi. Pertama, kata Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim ini adalah hak prerogatif Allah. Dia berkehendak menyebutkan namanya sesuai dengan Alquran dan hadis. Kedua, dengan kata Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim, Allah seakan memperkenalan Diri kepada makhluk-Nya agar mereka lebih dekat dan lebih jelas dalam mengenal Dzat Pencipta.

Hikmah basmalah
Pengucapan basmalah dengan penuh pemahaman, akan melahirkan efek yang luar biasa. Ketika kita mengawali aktivitas dengan basmalah, kita akan merasa disertai Allah. Semua yang kita lakukan pun akan bernilai ibadah. Dengan basmalah kita pun bisa bersyukur kepada Allah. Betapa tidak, dengan kasih sayangnya kita bisa hidup dan menikmati hidup. Ketika melakukan suatu kegiatan yang diawali basmalah, kita harus meyakini bahwa aktivitas tersebut terjadi karena izin Allah. Kita adalah makhluk lemah yang memerlukan bantuan Allah. Karena itu, setelah kita mengucapkan basmalah, kita pun disyaratkan untuk mengucapkan hamdalah.

Ketika mengucapkan basmalah, idealnya kita harus mengerti, apa basmalah itu dan mengapa ia harus diucapkan. Kita harus paham bahwa selain sebagai perintah agama, basmalah pun memiliki dasar-dasar hukum tersendiri. Jelas satu ayat ini bermakna sangat dalam. Ia termasuk kata mukjizat. Jika kita mengatakannya sepenuh penghayatan, maka kita akan menjadi orang jujur dan amanah serta optimal dalam bekerja. Itulah sebabnya, setiap amal yang dilandasi basmalah, insya Allah akan baik, indah dan sempurna. Mengapa? Sebab kita meniatkan dan mempersembahkannya untuk Allah. Pantaskah kita memberikan sesuatu yang buruk kepada Allah?

Meresapi basmalah
Bagaimana agar kalimat basmalah tersebut terinternalisasikan dalam diri seorang Muslim? Hal ini terkait erat dengan pemaknaan tauhid. Dalam arti bukan sekadar mengenal arti basmalah, tapi juga memahami hakikat yang dikandungnya. Allah SWT berfirman dalam QS Al Mukmin <40> ayat 65, Dialah (Allah) yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Agar basmalah meresap dalam jiwa, maka kita harus ma'rifatullah atau mengenal Allah terlebih dahulu. Lalu meyakininya sebagai prinsip hidup, untuk kemudian menjalankannya secara bertahap. Setelah melewati tahap ini kita ia bisa menjadikan basmalah sebagai ruh kehidupan. Untuk mengenal dan mengetahui Allah itu, medianya adalah Rasulullah. Maka seri mengenal Allah bisa dilakukan melalui seri mengenal Rasul. Dari sanalah kita akan mengenal Allah lebih jauh seperti diungkapkan dalam Alquran dan hadis.


Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=296726&kat_id=105